Susahnya Hidup di Jakarta


Kenaikan harga bahan bakar minyak per 1 Oktober 2005 terasa bagai sambaran petir bagi warga DKI Jakarta. Harga bahan-bahan pokok pun membubung. Banyak warga yang sebelumnya hidup cukup tiba-tiba terbanting ke jurang kemiskinan. Mereka yang sebelumnya miskin menjadi lebih miskin lagi.

Yang paling menderita, tentu saja, mereka yang hidup pas-pasan dan serba kekurangan. Tidak sepadannya pendapatan mereka dengan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak menyebabkan tingkat kesejahteraan mereka lebih buruk. Orang-orang miskin baru pun bermunculan.

Tekanan hidup meningkat hingga membuat sebagian warga gelap mata.pada 17 Oktober lalu kebakaran di Kantor PT Panca Kusuma, Kompleks Pertokoan Harmoni Plaza, Harmoni, Jakarta Pusat, yang menewaskan tiga karyawan perusahaan itu ternyata akibat ulah Iswandi (31), bekas karyawan di perusahaan tersebut.

Warga Kampung Gaga, Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, itu menyiramkan beberapa liter bensin di lantai dasar kantor bekas tempatnya bekerja yang terdiri dari tiga lantai itu dan kemudian menyalakan api di atasnya. Ia kesal karena beberapa saat sebelumnya dipecat. Ia juga bingung bagaimana membayar utang Rp 600.000 kepada saudara dan teman-temannya.

Meski mengaku kaget dengan kenekatan Iswadi, psikolog Sartono Mukadis menuturkan peristiwa itu bukan kejadian pertama dan terakhir. “Di masyarakat kita ada banyak calon Iswadi-Iswadi lain yang dapat melakukan perbuatan serupa,” katanya.

Jika menyimak tanyangan berita kriminal di berbagai mediamassa, apa yang dikatakan Sartono di atas tidaklah berlebihan.Adabanyak tindakan kriminal yang disebabkan oleh hal yang “sederhana dan mengharukan”, seperti seorang anak yang nekat menodong karena minder tidak punya telepon genggam. Atau ibu yang mencuri di supermarket karena tidak punya uang untuk membeli susu bagi anaknya.

Impitan kemiskinan membuat hidup warga DKI penuh kecemasan yang belakangan ini semakin terasa. Ingin bukti? Coba dengarkan tema pembicaraan sebagian besar masyarakat kita, terutama dari kelas menengah ke bawah. Hampir semuanya berisi keluhan dan kekhawatiran.

Jika yang berbicara ibu-ibu rumah tangga, kemungkinan besar pembicaraan akan berkisar pada naiknya harga berbagai kebutuhan. Seandainya yang diajak bicara karyawan, tema yang afdal adalah tentang gaji yang tidak naik atau naiknya sedikit, serta ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK). Ironisnya, menurut Sartono, di tengah kecemasan itu warga tidak diajak berpikir alternatif.

Berbagai keluhan dan kecemasan masyarakat ini salah satu akibat makin beratnya beban hidup mereka belakangan ini. Inflasi yang mencapai 18 persen dan pertumbuhan ekonomi yang hanya 5,3-5,6 persen pada tahun ini menjadi petunjuk sederhana bagaimana susahnya masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya sekarang.

Dengarlah cerita Maryati, warga RT 08 RW 04, Kelurahan Kamal, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Menurut dia, akibat kenaikan harga bahan bakar minyak 1 Oktober lalu, pengeluaran keluarganya naik menjadi Rp 320.000 per bulan.

“Sejak harga minyak naik, harga barang-barang langsung ikut-ikutan naik. Harga beras naik sekitar Rp 150 per kilogram. Sementara tarif angkutan umum naik rata-rata Rp 500. demikian juga dengan uang jajan anak,” kata Maryati.

Itu baru kenaikan harga akibat kenaikan harga bahan bakar minyak pada 1 Oktober lalu. Padahal, beberap bulan sebelumnya harga berbagai kebutuhan juga sudah mengalami “penyesuaian” akibat kenaikan harga bahan bakar minyak sebesar rata-rata 29 persen pada 1 Maret 2005.

Meski begitu, Maryati mengaku tidak tega minta tambahan jatah uang dari suaminya. Dia memilih mengurangi menu makanan keluarganya. Dia tahu persis gaji suaminya sebagai pembersih Jalan Tol Bandara Soekarno-Hatta, persisnya di sekitar pintu Tol Cengkareng, tetap Rp 54.000 per bulan. “Kalau suami tidak mencari sambilan menjadi tukang parkir, kami tidak dapat hidup,” papar Maryati.

Bukan hanya Maryati, tetapi banyak kuli proyek juga terpaksa menurunkan kualitas makanan dari biasanya lauk telur menjadi tahu-tempe. Menjelang lebaran 2005, ibu-ibu rumah tangga di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, tak sanggup lagi membuat ketupat. Sementara para tukang ojek sepeda tak mampu pulang kampung saat lebaran.

Namun, jika Maryati dan ibu-ibu lain memilih mengurangi menu makanan, bagaimana kualitas gizi yang dikonsumsi keluarganya? Apakah anak-anak mereka kelak akan mampu bersaing dengan anak-anak dari bangsa lain atau keluarga kaya yang selalu makan dengan gizi cukup?

Mengurangi beban

Pemerintah memang telah berusaha meringankan beban hidup warga miskin dengan menyalurkan bantuan langsung tunai (BLT) Rp 100.000 per bulan. Namun, namanya saja bantuan, jadi bukan hal aneh jika BLT tidak cukup untuk menutup lonjakan harga berbagai kebutuhan.

Bahkan, beberapa saat stelah diluncurkan, mayoritas cerita yang muncul dari BLT bukanlah tentang kebahagian masyarakat miskin penerimanya, tetapi lebih banyak pada kekesalan dan kegelisahan karena pembagiannya dianggap kurang merata dan tepat sasaran.

Salah satu keluhan yang muncul, BLT tidak dapat diterima masyarakat miskin yang tinggal di tempat-tempat tidak resmi, seperti kolong jembatan layang atau bantaran sungai, karena mereka umumnya tidak tercatat sebagai penduduk DKI Jakarta atau rumahnya tidak tercantum sebagai tempat tinggal resmi. Padahal, justru di situlah kantong-kantong kemiskinan masyarakat Jakarta.

Sudah teramat beratnya beban hidup masyarakat miskin, dana BLT umumnya juga habis dikonsumsi dan hanya untuk “bersenang-senang”. Jarang terdengar cerita uang itu dipakai untuk hal-hal produktif dan untuk kepentingan jangka panjang, seperti modal usaha.

Dengan berbagai kondisi di atas, amatlah sulit bagi orang miskin di Jakarta untuk melakukan mobilitas vertikal ke atas. Yang terjadi, mereka yang miskin tetap atau makin miskin. Sementara yang hidupnya pas-pasan, jika tidak hati-hati, akan tergelincir jatuh miskin.

Makin beratnya beban hidup orang miskin di Jakarta membuat mereka berlomba-lomba, adu gesit dan “kreatif”, untuk bertahan hidup. Akibatnya, sekarang di hampir setiap sudut jalan, angkutan umum, dan perkampungan selalu dipenuhi pengemis, pengamen, atau pak ogah.

Makin beratnya beban hidup ini juga memicu kriminalitas. Beberapa waktu lalu Kepala Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya Inspektur Jenderal Firman Gani bahkan menyampaikan kualitas kriminalitas di Jakarta, terutama perampokan, belakangan ini meningkat.

Jika sudah demikian, kesulitan hidup mereka yang kekurangan akhirnya juga mempersulit orang yang hidup berkecukupan di Jakarta. Buktinya, seandainya kita punya cukup uang dan berada di mobil pribadi yang berpenyejuk udara, apakah merasa tetap nyaman jika melihat jalanan dipenuhi pengemis dan pengamen? Apakah kita juga merasa aman karena suatu saat sebagian dari pengemis atau pengamen itu dapat bertindak brutal?

Kalau sudah demikian, dari segi keamanan dan kenyamanan, apa enaknya hidup di Jakarta? Baik bagi mereka yang harus mendapat BLT sampai secara ekonomi hidupnya berkelimpahan.

Sumber : KOMPAS, 19 Desember 2005

2 Responses to Susahnya Hidup di Jakarta

  1. .:: setiaONEbudhi ::. mengatakan:

    wuaaaahhh…
    serem juga yaaaa..
    anggapan kalo jakarta itu kota yang KEJAM kayaknya emank pas,,
    hehhehehe

    salam..

  2. sugeng jatmiko mengatakan:

    Ud di tambah sorry lama mklm gak pnya komputer ngeblognya pke hp jadul lg jd sering hang salam kenal ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: